Senin, 22 September 2014

JAMBU UNTUK ANAK KU

Riuhnya bunyi dedaunan di sebabkan angin pagi yang gelisah. Kicauan burung hutan memecah kesunyian. Sang mentari memercik sinarnya pada wajah-wajah yang saling bercermin pada bola mata masing-masing. Terlihat dua orang ayah dan anak sedang bertatapan. “Tidak nak, Abah sangat mengerti, Abah juga minta maaf karena sudah banyak menyusahkanmu.” Panang Aman mengusap bahu Ramadhan. “Tidak Bah, memang sudah kewajiban seorang anak untuk merawat dan menjaga orangtua yang telah membesarkan dengan segenap jiwa dan raga.” Ucap lirih Ramadhan dengan nada rendah. Terlihat penyesalan yang mendalam pada dirinnya.
Lima puluh tahun yang lalu di sebuah desa tampak rumah berukuran kecil dan sangat sederhana. Dinding-dinding rumahnya hanyalah terbuat dari anyaman bambu atau sering disebut palupuh dalam Bahasa Banjar. Sedang atapnya terbuat dari daun rumbia yang sudah tersusun rapi. Rumah sederhana itu dihuni oleh sepasang suami istri. Panang Aman dan Acil Siti mereka sering disebut. Dalam Bahasa Indonesia, Panang adalah paman dan Acil adalah bibi. Sudah hampir sepuluh tahun Panang Aman dan Acil Siti masih belum dikaruniai anak. Hari-hari mereka terasa hampa tanpa kehadiran seorang anak. Akan tetapi mereka selalu ikhlas diiringi dengan berusaha dan berdoa kepada Allah SWT.
Panang Aman adalah seorang petani yang sangat rajin. Hasil taninya baik sayur maupun buah akan dijual di pasar dan sebagian lagi untuk keperluan di rumah. Dan istrinya Acil Siti selalu menemani suaminya di sawah sembari mencari daun-daun pisang yang juga akan dibawa ke pasar untuk dijual. Walau hasil yang didapat tidak seberapa. Namun, itu sudah cukup untuk memenuhi keperluan mereka berdua.
Selepas Isya. Terhampar gelap yang panjang. Suara aliran sungai menjadi musik yang mengiringi bambu dengan julangan tinggi, saling bergesekan dengan suara daun-daunnya seolah berbisik-bisik. Rembulan dengan manja didampingi seekor bintang mengintip pembicaraan dari sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari sungai. Terlihat Acil Siti menutup jendela karena angin yang dingin masuk tanpa permisi. “Ka, pian kada dulakkah, kita ini beduaan aja di rumah. Padahal sudah sapuluh tahun kita menikah.” Ucap acil siti sambil mengikat daun-daun menjadi beberapa bagian yang akan dijual besok pagi. “Ya, handak kaya apa pang ding, amun Allah balum membari. Kita harus sabar. Ujar Bidan kandungan pian kada bemasalah, mungkin Allah belum mempercayai kita untuk segera baisi anak. Kita juga jangan berhenti memohon kepada Allah agar kita dikaruniai anak suatu saat nanti.” Jawab Panang Aman dengan bijaksana sembari mengangkat kopiah di kepalanya untuk menggaruk kepalanya yang gatal. “Inggih, Aamiin.” Acil siti menghitung daun-daun yang sudah diikatnya. “Ya sudah, ayo kita tidur. Besok kita pagi-pagi sudah harus pergi ke pasar.” Panang menuju kasur dengan meletakkan kopiahnya di sisi kasur. Sementara Acil Siti masih sibuk membereskan daun-daunnya. Tak ada hari terlewatkan tanpa rangkaian doa-doa dari sepasang suami istri yang selalu sabar dan tawakkal.
Panang Aman dan Acil Siti tak pernah bosan untuk berdoa. Beberapa bulan kemudian, rahmat pun datang menghampiri mereka. Doa-doa mereka dijawab oleh Tuhan. Doa-doa yang tak pernah putus setiap hari bahkan detik itu. Mungkin saja Tuhan sudah bosan mendengar doa-doa mereka.
Sembilan bulan Acil Siti mengandung. Pada bulan Ramadhan ia melahirkan anak laki-laki. Ketika tangisan bayi terdengar, alangkah senang hati Panang karena doanya selama ini telah dijawab oleh Allah SWT. Namun wajahnya berubah sedih seketika, ketika bidan beranak mengatakan bahwa Acil Siti sudah meninggal beberapa menit yang lalu ketika melahirkan bayinya. Kematian Acil Siti kemungkinan disebabkan oleh kehamilan di usia tua. Panang Aman sangat sedih dengan kejadian itu. Walau dia sedang berbahagia mendapat seorang putera. Namun kehilangan seorang istri yang sudah mempertaruhkan hidupnya juga membuat hatinya hancur. Panang Aman sadar semua kejadian yang menimpanya adalah memang sudah suratan takdir. Ia yakin ini sudah keputusan dari yang Maha Kuasa. Di mana akan ada hikmah dibalik semua ini. Ia mencoba untuk tidak begitu larut dalam kesedihan karena ia masih mempunyai anak yang harus dijaga.
Ramadhan adalah nama yang diberikan oleh Panang Aman untuk anak semata wayangnya. Di mana maksud dari kata Ramadhan adalah bulan kelahiran Ramadhan yaitu pada bulan suci Ramadhan. Hari demi hari dilalui Panang dengan penuh kesabaran. Merawat seorang bayi bukanlah perkara gampang terutama bagi seorang laki-laki. Ia merawat Ramadhan dengan penuh kasih sayang, hingga seekor nyamuk pun tidak ia biarkan mendekati tubuh Ramadhan.
Ramadhan tumbuh dengan sehat dan pintar. Diusianya yang lima tahun ia sudah pandai membaca Al Qur’an karena Panang selalu mengajarinya setiap malam dengan hanya menggunakan penerangan lampu minyak. Panang Aman selalu menuruti apa yang diminta oleh Ramadhan. Sehingga, Ramadhan jarang menanyakan tentang ibunya. Ia juga selalu membawa Ramadhan kemanapun ia pergi. Panang selalu mengajak Ramadhan memancing, ke sawah dan ke pasar. Ia juga sering mengajak Ramadhan bermain. Panang Aman bisa menjelma menjadi sosok ibu dan juga teman.
Ramadhan kecil sudah tumbuh dewasa. Ia selalu menolong Bapaknya di sawah dengan sedikit belajar cara bertani dan menjual hasil taninya ke pasar. Dan akhirnya ia menjadi anak yang mandiri. Karena Ramadhan sudah dewasa dan sudah mandiri. Maka, Panang Aman menikahkannya dengan seorang gadis yang tak jauh dari rumahnya.
Ramadhan sudah berkeluarga. Ia dan istrinya tinggal satu rumah dengan bapaknya. Dan tidak berapa lama kemudian Ramadhan dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat dikasihinya. Usia Panang bertambah tua. Wajahnya sudah banyak berkerut, matanya tak lagi cerah, tatapan matanya sayu, tangannya yang tak lagi kuat dan tubuhnya yang tak lagi kekar seperti dulu. Panang hanya bisa berbaring penuh kepasrahan tanpa daya. Ia hanya bisa memandang cucunya yang sudah berusia 10 tahun. Tanpa bisa mengajaknya bermain-main seperti dulu ia dengan Ramadhan anaknya. Mainan apapun yang Ramadhan kecil minta buatkan selalu ia kabulkan dengan tangannya yang terampil dan kuat. Ia pun teringat raut wajah cerah Ramadhan kecil yang sedang memamerkan mainannya kepada teman-temannya. Lamunan masa lalu pun mengahantarkannya pada sebuah mimpi yang memutar memori lama. Di usia Panang yang sudah tua renta dengan terpaksa Ramadhan dan istrinya harus merawat dan menuruti semua kehendak bapaknya.
Panang Aman sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ia juga sedikit cerewet dan sering membuat kesal. Lama-kelamaan Ramadhan merasa lelah dengan keadaan bapaknya. Sehingga ada niat buruk yang akan dilakukanya pada bapaknya. Apakah Ramadhan sudah lupa atas semua kasih sayang dan jerih payah bapaknya selama ini, hingga ia bisa hidup berkecukupan seperti ini. Apakah ia sudah lupa segalanya. Apakah ia tak ingin membalas semua jasa bapaknya dengan merawat bapaknya dengan ikhlas di masa tua bapaknya yang sudah tak berdaya.
Suatu hari munculah pikiran jahat Ramadhan untuk membuang bapaknya ke hutan. Entah kenapa pikiran itu ada di dalam benaknya. Iblis apakah yang telah menghasutnya. Hatinya begitu kerdil untuk menerima keadaan bapaknya. Tapi setidaknya Ramadhan masih mempunyai sekerikil hati hingga dia tidak membunuh bapaknya secara langsung. Namun, tetap saja membuangnya ke hutan berarti sudah tidak mengharapkan kehadirannya lagi. Bukankah itu sama saja membunuh bapaknya dari hati dan pikirannya. Membuangnya ke hutan juga bisa membunuh secara fisik dengan perlahan bahkan cepat. Sudah pasti di hutan banyak binatang buas yang siap memangsa bapaknya. Sungguh Ramadhan sangat keterlaluan dan sampai hati berniat seperti itu.
Saat pagi yang masih berselubung kabut. Terasa hawa dingin merasuk kulit. Ramadhan menggendong bapaknya memasuki hutan. Bapaknya tampak kedinginan karena tidak menggunakan pakaian tebal. Di tengah perjalanan “Nak, kenapa ikam menggendong abah? handak dibawa ke mana Abah?” Tanya Panang Aman dengan cemas. “Ah, Abah neh! Sudah, bediam aja jangan banyak takun.” Hardik Ramadhan dengan marah.
Semak demi semak ia celahi. Hutan belantara telah ia masuki. Tanpa disadari kaki Panang Aman terkena tumbuh-tumbuhan yang melukai. Tampak ia menahan perih. Sakit. Panang Aman mulai menyadari bahwa ia akan dibuang ke hutan oleh anaknya sendiri. “Nak, mau kamu bawa kemana abah nak, Jangan kamu buang abah nak. Maafkan abah yang sudah menyusahkan ikam juga istri ikam selama ini.” Panang Aman memohon kepada Ramadhan dengan berderai air mata. Ramadhan terus berjalan. Ia tak sedikitpun menggubris kata-kata bapaknya. Dan sama sekali tidak tersentuh oleh tangisan bapaknya.
Sesekali Ramadhan membenarkan posisi gendongan bapaknya. Saat itu juga bapaknya berpegangan dengan erat. Tiba-tiba … Prak … Ramadhan hampir tergelincir karena terinjak jambu biji yang lumayan besar. Warnanya sangat hijau, ranum namun ada sedikit bekas gigitan kelelawar. Sedangkan di sekitar itu tidak ada pohon jambu. Mungkin jambu tersebut dijatuhkan oleh kelelawar. Entahlah. Ramadhan berhenti dan menurunkan bapaknya. Ia sandarkan bapaknya pada sebuah pohon besar. “Kenapa berhenti Nak?” Ramadhan tidak menjawab. Ia memungut jambu itu lalu membersihkannya dengan tangan. “Bapak tahu, pasti kamu ingin membawa jambu itu pulang kan? Untuk anakmu Ali. Karena ia sangat suka jambu Karantukal (jambu biji)” ucap Panang Aman dengan sedikit tersenyum. Ramadhan tersentak. “Abah dulu juga begitu denganmu nak. Jika Abah mau mencari kayu bakar di hutan, kamu selalu minta carikan jambu karantukal hutan yang besar. Dan Abah selalu berusaha membawakannya untukmu. Saat Abah bulik ikam sudah mehadang di muhara lawang menunggu si jambu karantukal kesukaan ikam. Dan pasti anakmu juga akan seriang itu ketika kau pulang nanti.” Papar Panang Aman sembari menyeka air mata. Ramadhan terkulai lesu ketika mendengar ucapan bapaknya. Ia teringat akan kasih sayang bapaknya ketika ia masih kecil. “Abah…” Ucap lirih Ramadhan dengan wajah penuh penyesalan. “Nak, teruskan perjalannmu. Abah ikhlas jika kau benar ingin membuang abah. Abah sadar sekarang sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Mungkin sebentar lagi Abah juga akan mati.” Panang mengangkat tangannya yang gemetar menunjukkan bahwa ia siap untuk dibawa ke manapun. Sedangkan Ramadhan menatap wajah bapaknya yang penuh pasrah. Ia mendekati bapaknya. “Tidak Abah, kita akan pulang. Sekarang aku sadar betapa abah sudah sangat menyayangi dan mengasihiku saat aku kecil hingga dewasa. Ulun anak yang durhaka Bah, ulun sudah berniat untuk membuang pian. Ampuni ulun Bah, ampuni dosa-dosa ulun Abah…” Ramadhan menangis sejadi-jadinya. Ia sangat menyesal.

HARIMAU MAKAN DURIAN

Dahulu kala, di daerah jambi terdapat kerajaan kerajaan kecil. Mereka hidup damai berdampingan.
Suatu hari, seekor harimau kelaparan yang sangat buas, mengacau desa tersebut. Harimau memakan ternak dan menyerang warga desa. Puluhan warga mengalami luka luka serius. Situasi yang sangat darurat memaksa raja turun tangan. Raja memerintahkan seorang prajurit pilihan untuk mengatasi hal tersebut.
“Wahai prajuritku, kau kuberi mandat untuk menangani harimau yang mengganggu wargaku!” perintah raja kepada Roman, sang prajurit pilihan.
Di tengah hutan, Roman berkelahi dengan sang harimau. Roman terluka parah. Roman berlari dan terus berlari hingga sampai di desa kemingking yang terkenal karena duriannya. Roman memasuki desa kemingking dan harimau terus mengejarnya. Roman melawan harimau itu dengan sekuat tenaga. Melihat banyak durian yang jatuh, Roman pun menggunakan durian itu sebagai senjata. Ia melemparkan durian durian itu ke arah harimau.
“Ampuni aku wahai prajurit. Aku tidak lagi mengganggu warga. Tetapi, izinkan aku untuk bisa menikmati durian durian yang wangi dan manis ini pada setiap akhir musim!” seru harimau mengiba kepada Roman.
Roman pun mengangguk tanda setuju.
Roman lalu melaporkan hal kejadian itu kepada raja. Raja pun memerintahkan rakyatnya untuk menghormati dan mematuhi sumpah harimau tersebut. Sejak saat itu, harimau tak pernah mengganggu warga dan hanya keluar pada waktu musim durian. Kebiasaan tersebut hingga saat ini tetap dijalankan desa kemingking.

baca ha

Alkisah hiduplah seorang saudagar kaya raya yang hidupnya bergelimpangan harta tanpa pernah merasa susah. Segala apa yang dia inginkan dapat dimilikinya dengan mudah tanpa perlu menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkannya. Namun saudagar itu tak pernah merasa bahagia, dia selalu bermuram durja dan merasa hambar dalam menjalani hidupnya.
“apa yang aku risaukan, hidupku ini cukup sempurna untuk ukuran seorang manusia, tapi mengapa aku tak pernah merasa bahagia.” Gerutunya dalam hati.
Dia kembali memutar otaknya seraya melihat daftar kekayaan yang sudah dimilikinya. “Aku tahu kenapa, karena aku baru punya satu rumah mewah dan tak punya kendaraan pribadi untuk memudahkanku dalam bekerja?” pikirnya.
Keesokan harinya, dia memerintah salah seorang tangan kanannya untuk membelikan rumah mewah di kota lain dan membelikan mobil termahal di negaranya.
Tak sampai satu minggu, kedua keinginannya pun terpenuhi, saudagar itu kini mempunyai satu rumah mewah di kota lain dan mobil termahal di negaranya. Satu dua minggu, kebahagiaan melanda hatinya yang telah lama risau.
Namun minggu selanjutnya, hati saudagar kembali risau. Dia merasa semua itu terkesan biasa dan tak memberinya kebahagian lebih. Hingga akhirnya saudagar itu memutuskan untuk menenangkan diri dengan berlibur ke Negara lain.
Dua bulan berlalu dia kembali pulang dengan wajah penuh kesedihan karena dia tak menemukan kebahagiaan di Negara yang dia kunjungi.
Saudagar itu pun merasa kekayaannyalah yang telah membuatnya bosan dan bahagia. Akhirnya dia memutuskan untuk menjadi orang biasa dengan meninggalkan keluarganya dan tinggal seorang diri di kota terpencil. Tetapi kesulitan yang dialaminya menambah rasa sedih dan risau di hatinya. Bahkan kondisi ini membuatnya tak mengenal arti kebahagiaan, dia pun kembali menemui keluarganya. Dalam perjalanan pulang, dia bertemu seorang pedagang asongan di pinggir jalan yang bisa tersenyum riang. Dia mendekati pedagang itu dan mengajaknya bertukar pendapat.
“Maaf sebelumnya, apakah laba saudara dari berdagang seperti ini cukup besar?” Tanya saudagar keheranan. Pedagang asongan hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Sikap pedagang itu benar-benar membuat saudagar semakin heran.
“kenapa saudara hanya tersenyum mendengar pertanyaan saya?” tanyanya lagi.
Kali ini pedagang asongan mulai angkat bicara. “perlu saudara ketahui, berdagang seperti saya untung yang paling besar bukanlah materi tapi tantangan naik turun kendaraan, berlarian, kepanasan bahkan kehujanan dalam menjajakan dagangan saya” jawabnya santai.
Mendengar jawaban seperti itu, dia kembali mengerutkan dahinya, rasa heran akan kebahagiaan yang selalu terpancar dalam diri pedagang asongan itu semakin mengebu-gebu.
Dia kembali mengajukan pertanyaan. “tapi mengapa saudara bisa tertawa riang seperti hidup penuh dengan kebahagiaan padahal saudara tak berlimpah harta dan hanya seorang pedagang asongan, selama ini saya selalu mencari dimana letak kebahagiaan itu padahal saya sorang saudagar kaya tak pernah kesusahan namun tetap saja saya tak pernah merasa bahagia dengan apa yang saya miliki” ceritanya.
“saudara perlu tahu, letak kebahagiaan sesungguhnya bukan pada materi saja, harta yang berlimpah atau terbatas tak selamanya membuat kita bahagia. Tak hanya itu, semua yang kita miliki tak akan pernah berarti apapun serta membuat kita bahagia karena letak kebahagiaan yang hakiki ada pada diri kita pribadi”
“maksud saudara apa? Saya tak mengerti”
“letak kebahagiaan yang hakiki terletak pada diri kita sendiri melalui satu rasa yakni rasa syukur. Tanpa rasa syukur semua yang kita miliki tak akan pernah membuat kita bahagia karena kita tak akan pernah puas dengan apa yang sudah kita miliki”
“terima kasih banyak. Saudara telah memecahkan kerisauan hati saya selama ini dalam mencari letak kebahagiaan”
Hikmahnya
Kita tak akan pernah merasa bahagia tanpa ada rasa syukur. Karena dengan rasa itu seperti apapun kondisi yang sedang kita jalani tak akan pernah membuat kita bersedih dan merasa risau. Oleh karena itu, sebagai manusia hendaknya kita menanamkan rasa syukur dalam diri kita dalam segala situasi dan kondisi.